Romansa yang Luput

Aku telah melewatkan tangisnya


Hari itu bibir tipisnya berucap, dihiasi lekukan menawan. Menerobos dinding-dinding harapanku, selangkah menuju kepastian. Lantunannya mengusik tampang dinginku, dipaksanya terpaku dalam senyum. Kata-kata yang mungkin tak kan lepas dari memoriku, kata-kata sederhana yang merengkuh ruang sadarku, mempersempit akan batas-batas logikaku.

“Van, kalau aku suka kamu gimana?” wajahnya tersipu malu. 

Seketika memecah suasana hangat obrolan dua insan yang masih dalam dekapan persahabatan. 

Wanita yang selalu ceria dengan canda tawanya itu, beberapa bulan belakangan ini bersedia menghiasi hari-hariku, setiap hari tingkah jahilnya tak pernah luput mewarnai wajah kesalku yang sebenarnya menutupi angan-angan rahasia. Aku tahu dia orangnya suka bercanda, sehingga tidak membuatku terburu-buru memanjakan khayalku, aku berusaha menekan sedikit harapku akan kata-katanya itu.  

Namanya Naomi, sudah hampir setahun aku mengenalnya, dari mulai hanya sekedar pengisi bayang-bayang sampai ke persahabatan. Selama itu dia tidak pernah memperlihatkan ciri-ciri untuk tertarik kepadaku. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas, dengan mengambil jurusan yang sama, meskipun beda kelas kami sering bertemu. Walaupun sebenarnya aku yang sangat menginginkannya, sejak wajah datarku ini terpana akan pertama kali melihatnya. Aku sadar sainganku banyak berdatangan dengan rupa yang mungkin lebih baik dariku dan juga lebih berani untuk setidaknya mengutarakan sepatah kata cinta untuknya. 

Keinginanku berlabuh di hatinya semakin hari semakin ku kurangi, melihat aku dengannya yang jauh dari kata pantas. Perawakan yang tidak terlalu rupawan, berbalut setelan sederhana dengan kacamata minus 10, dan kemana-mana berteman dengan buku. Apa mungkin bisa meluluhkan seorang wanita yang populer karena paras cantiknya berhasil membius siapapun laki-laki yang melihatnya. Jangankan untuk menyampaikan rasa, sekedar menyapanya saja hatiku tidak memiliki keberanian. Sampai akhirnya Sang waktu tergugah melihat diriku yang menyedihkan.

 “Ah, kamu jangan bercanda” kataku yang sebenarnya ingin memastikan.

Suasana menjadi hening sejenak.

“Van.., aku sayang kamu.” menatap ke arahku. Memasang wajah yang tidak terlihat seperti main-main.

Aku hanya bisa diam, seakan masih tidak percaya dengan pemandangan ini. Kenapa bisa kata-kata seindah itu sampai muncul dari mulutnya. Sejak baru pertama kali kenal yang tidak disengaja, sikapnya kepadaku biasa-biasa saja. 

Waktu itu di perpustakaan, seperti biasa aku sedang mencari buku-buku yang akan dipakai sebagai bahan kuliah. Dengan membawa beberapa tumpukan buku yang sudah ku dapatkan, aku bergegas menuju ke tempat peminjaman. Namun baru setengah perjalanan tiba-tiba kakiku kesandung meja, karena mataku terlalu sibuk dengan buku yang kubawa. Aku akhirnya jatuh, semua orang di ruangan itu menatapku bahkan tidak sedikit yang tertawa, pikirku kenapa pas sedang ramai-ramainya seperti ini nasib sial menimpaku. Yang lebih parahnya lagi, tidak jauh dari hadapanku Naomi sedang memandang ke arahku, aku tidak tahu harus berbuat apa. Karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa malu yang terus menerpa, aku memalingkan kepala dan buru-buru beranjak keluar dari tempat itu, aku sudah tidak memikirkan lagi dengan buku-bukuku yang berserakan.

Tapi kalau bukan karena itu, aku tidak mungkin bisa dekat dengannya seperti sekarang ini, lebih tepatnya oleh buku puisiku. Ya, buku yang tidak pernah pisah dari saku bajuku, tanpa sadar ikut jatuh di perpustakaan. Sebagai mahasiswa sastra, aku sering mengutarakan apa yang kurasakan, apa yang mulutku tak kuasa mengungkapkannya, aku tuangkan ke dalam bentuk puisi. Bisa dibilang buku itu seperti diaryku. Jadi, aku tidak bisa terima kalau sampai buku itu hilang.

Menyadari keberadaannya yang tak lagi di saku, aku langsung panik mencarinya kemana-mana, ke perpus, di kelas, dan tempat-tempat lainnya di kampus, namun tetap saja tidak ketemu. Sampai akhirnya aku pasrah tak tahu lagi harus mencarinya kemana. Namun, sepulang kuliah semuanya terjawab.

“Bunga hati yang tak tersampaikan, mengadu menangis mempertanyakan sebabnya. Tuk insan pemilik yang tak pernah memiliki, tuk jawaban muram dari angan-angan pengecut”

Ketika baru mau beranjak keluar dari pintu gerbang kampus, tiba-tiba terdengar seseorang melantunkan salah satu puisiku. Dan orangnya adalah Naomi, ternyata dia yang menemukan buku puisiku waktu jatuh di perpustakaan.

“Ini kamu yang buat?”

“I iya.” jawabku gugup

“Bagus.” katanya. “Maaf ya, tadi aku yang ngambil buku kamu. Aku Naomi”

“Ya gak apa-apa, Aku Irvan” 

Setelah kejadian itu, Naomi sering menemuiku di kampus. Dia bilang, puisi juga menjadi salah satu kesukaannya, dirumahnya banyak buku-buku puisi yang menjadi koleksinya. Karena melihat tulisan puisiku yang menurutnya bagus, dia memutuskan belajar dariku. Dia juga sangat ingin mencurahkan segala isi hatinya dalam bentuk kata-kata yang indah.

Ini adalah awal yang menjadi alasan darinya. Mungkin teman-teman di kampus bingung kenapa Naomi bisa bersamaku. Apalagi laki-laki yang masih mengejarnya, karena iri dengan kedekatanku banyak dari mereka sempat membullyku. Namun lagi-lagi, selain parasnya yang cantik Naomi juga memiliki hati yang lebih indah, dia tidak pernah malu membelaku dari kelakuan buruk mereka. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik dengan wanita seperti itu.

Hari demi hari berlalu sampai dia berani menyampaikan perasaannya kepadaku, yang tidak pernah aku sangka. 

“Naomi, kamu tahu gak?” aku memberanikan diri menggemgam tangannya. “Hatiku sudah menjadi milikmu, sejak pertama kali aku melihat kamu.”

“Lelaki biasa yang hanya bisa diam-diam memandangmu dari kejauhan, karena tidak berani menghampiri. Berharap  akan keajaiban datangnya hari yang indah, hari dimana putri yang berhati malaikat ini mau menghabiskan waktu bersamanya, untuk selamanya.”

Mata indahnya mulai berkaca-kaca, tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Aku dan Naomi akhirnya menjadi sepasang kekasih. Tidak ada lagi hari-hari yang membosankan, tidak ada lagi hati yang menangis. Entah berapa kali pena menari di buku puisiku, tak mampu menggambarkan hari-hari indah yang diberikannya. Penantian yang selama ini mendekap dalam takutku telah dibuka oleh penyaksian lembutnya. Selembar cerita hidupku yang takkan pernah terhapuskan.

Aku sering membacakan berbagai puisi untuknya, dimanapun saat kami bersama. Aku juga  mengakui tentang satu hal, bahwa puisiku yang pertama kali dia baca adalah perasaanku untuknya yang tidak mampu kuungkapkan. Namun setelah mendengar penjelasan tersebut, dia malah mengejekku. Ya, itulah dia, yang selalu mewarnai hari-hariku dengan tingkah jahil dan candanya, yang selalu tertawa setiap berhasil membuat wajahku kesal. 

Ada satu tempat yang menjadi favorit kami, tempat yang selalu menemani sebagian malam romansa manis kami, yaitu cafe yang tidak jauh dari kampus. Selain tempatnya yang bagus, pemiliknya sengaja mendesain dengan interior terbuka, jadi kami bisa sambil memandangi indahnya langit malam. Setiap hari kami kesana, kecuali hari-hari yang tidak disenanginya, hari ketika rembulan tidak menampakkan diri. Setelah ku tanya apa alasannya, dia hanya bilang tidak suka. Namun sepertinya aku tahu alasannya.

“Van, bulannya indah ya” katanya di cafe waktu itu.

“Iya”

“Tapi.., ia tak mampu sendiri tanpa matahari”

“Kenapa?” tanyaku.

“Sama seperti kita, hari-hariku tak kan indah tanpa sinarmu, tanpa cintamu”

Kata-katanya memaksa senyum di bibirku.

“Nanti.., saat aku tidak di sampingmu, kamu jangan sedih. Karena bulan telah mewakilkannya”

“Kamu kenapa bicara seperti itu?” apa yang disampaikannya membuat perasaanku kurang nyaman.

“Gak.., aku lagi belajar buat puisi, hehe”

Namun aku merasa ada yang disembunyikannya, raut wajahnya tidak terlihat seperti biasanya. Atau mungkin benar dia memang lagi belajar merangkai kata, tapi aku tidak mau terlalu memusingkannya. 

Malam yang terlalu indah untuk ku curigai, romansa-romansa bahagia bersamanya menyita waktu pikirku, menguatkan keyakinan akan dialah satu-satunya. Tuhan, aku sangat mencintainya.

. . .

Hari ini, untuk kesekian kalinya, aku sedang menunggu bidadariku. Menemani malam memandangi bulan. Sudah dua jam aku berada di cafe ini, namun dia tak kunjung datang juga. Beberapa kali aku menghubunginya, tapi handphonenya tidak aktif. Aku khawatir dia terjadi apa-apa. Sampai akhirnya, sahabatnya si Putri menelponku, dia minta maaf karena lupa menyampaikan bahwa Naomi tidak bisa datang malam ini, karena ada acara keluarga. Setelah mendengar hal tersebut, bukan masalah lagi sekarang dia tidak ada di sini, setidaknya aku tahu dia baik-baik saja.

Besoknya, Naomi tiba-tiba mengajakku ke suatu tempat, taman yang ada di kampus. Dia sengaja mencari tempat yang agak sepi, katanya ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepadaku. Namun, aku melihat pemandangan yang tidak biasa dari wajahnya, kepalanya menunduk dengan alis yang sedikit turun.

“Ada apa Naomi?” tanyaku. “katakan saja”

“Kita tidak bisa bersama lagi.” kata-kata yang tak pernah kuharapkan muncul dari bibir mungilnya.

“Kenapa??”

“Maafkan aku Van…” air matanya tak mampu disembunyikannya. “Aku sudah ditunangkan dengan laki-laki pilihan kedua orangtuaku”

“Tapi, kenapa kamu tidak menolaknya?” tanyaku kecewa.

“Tidak bisa Van… Lebih baik mulai sekarang kamu belajar melupakan aku”

“Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu, aku sayang kamu Naomi”

Air matanya yang terus mengalir ke pipinya mengisyaratkan bahwa dia juga tidak menginginkan ini.

“Maaf Van…” dia langsung pergi meninggalkanku.

Hatiku benar-benar hancur, air mataku tidak terasa juga ikut menetes. Dalam hati aku terus mempertanyakannya. ‘Kenapa Tuhan?’ ‘Kenapa ini bisa terjadi?’ ‘Kenapa sekarang, disaat aku tidak akan mudah untuk melupakannya?’. 

Selanjutnya dan seterusnya, dia selalu menghindar dariku, namun aku tidak pernah menyerah untuk tetap berusaha mendekatinya. Aku tahu dia tidak bahagia dengan pilihannya sekarang, beberapa kali aku menjelaskannya untuk mencari jalan keluar dari masalah ini, tapi dia tidak pernah menggubrisnya. Sampai aku tidak tahan lagi.

“Naomi!, aku tidak bisa Naomi!, aku tidak bisa tanpa kamu!” kataku dengan nada yang sedikit tinggi. 

Dia pun menghentikan langkahnya ketika hendak menghindar dariku.

“Kenapa kamu tidak mengerti juga, aku sudah bahagia dengannya!” bentaknya. “Kamu jangan berusaha mendekatiku lagi, lupakan aku. Aku sudah tidak sayang lagi sama kamu.”

Kalimat terakhirnya membuatku teriak dalam diam, seakan tidak percaya. Tubuhku membisu dalam keramaian. Menatap sosok yang kucinta mulai menyamarkan wujudnya dari hadapanku. Sungguh kenyataan yang menyakitkan, kenapa aku dihampiri manis tapi pada akhirnya untuk menyambut yang pahit. 

. . .

Dua bulan berlalu. Selama itu aku belajar untuk tidak memikirkannya lagi, sampai aku pernah tidak kuliah beberapa kali sejak kejadian itu. Tapi waktu terus menyadarkan, bahwa hidup masih berlanjut, biarkan dia yang sudah bahagia. 

Hari-hari kujalani seperti biasanya, aku kembali fokus pada kuliah. Meskipun begitu, hati tetaplah hati, tak kan mampu untuk terus menyembunyikan kejujurannya. Aku masih menyempatkan diri pergi ke cafe, tempat yang dulu menjadi favorit kami berdua. Setidaknya tempat ini mengobati rindu saat-saat bersamanya, saksi bisu akan sedikit cerita indah kami.

Namun, yang membuatku merasa aneh, aku tidak pernah lagi melihatnya di kampus, sejak terakhir kalinya kita bertemu sampai sekarang. Aku berpikir mungkin dia pindah kampus atau dia sudah menikah dan mengambil beberapa cuti kuliah. Pernah aku iseng untuk mempertanyakannya ke Putri, karena dia sahabatnya yang paling dekat. Tapi jawabannya selalu bilang bahwa Naomi sudah bahagia, jangan mengganggunya lagi. Padahal niatku tulus hanya sekedar ingin tahu keadaannya, tidak lebih dari itu. 

Aku juga pernah coba ke rumahnya untuk menanyakan hal yang sama, tapi orangtuanya mengusirku sebelum sempat aku bicara tentang Naomi. Aku jadi semakin bingung, kenapa sikap orangtuanya menjadi seperti itu kepadaku, padahal hubungan kita sebelumnya baik-baik saja. Aku hubungi lewat telepon dan akun sosialnya tidak ada balasan, aku bertanya ke teman-temannya sama saja, tidak ada jawaban. 

Andai dia tahu, aku sangat merindukannya sekarang. Walaupun kami bukan lagi sepasang kekasih tidak masalah bagiku, aku sudah ikhlas demi kebahagiannya. Tapi keinginanku saat ini hanya ingin melihat wajahnya, hanya itu. Yang selalu tersipu malu saat ku bacakan puisi untuknya dulu, yang tidak pernah lelah berbuat usil kepadaku. Kenapa disaat permohonan kecil seperti ini Sang waktu tidak menjawabnya. Aku benar-benar kecewa.

Sayang, dimana kamu sekarang?

. . .

Malam ini, di cafe yang sama, seperti biasa aku sendiri, menyapa bayang-bayang saat dulu kita bersama, berharap dia muncul di sampingku. Apa yang dilakukannya sekarang?, bagaimana keadaanya?, apa dia sehat-sehat saja?, semoga Tuhan selalu melindunginya. 

Di tengah-tengah lamunanku tiba-tiba suara perempuan memanggil namaku.

 “Irvan!”

Aku langsung kaget dan sontak menyebut nama Naomi, “Naomi!”

“Aku Putri Van..”

Setelah mataku memperjelasnya, ternyata yang berdiri di depanku memang bukan sosoknya.

“Ada apa putri?” jawabku lesu.

Dia beranjak duduk di sebelahku.

“Ada yang ingin aku bicarakan…. Tentang Naomi”

Mendengar apa yang ingin disampaikannya aku sangat bahagia, semoga dia tahu keberadaan Naomi.

“Dimana dia?” tanyaku. “Dia baik-baik saja kan?” “Tenang saja.. aku cuma ingin tahu keadaanya, tidak lebih.”

Entah apa alasannya, tiba-tiba Putri menangis, aku khawatir ini ada hubungannya dengan Naomi.

“Kenapa kamu menangis?” “Apa yang terjadi?” “Dia dimana sekarang?” aku mulai panik.

Setelah beberapa saat kemudian, dengan air mata yang masih mengalir dia menceritakan semuanya.

“Van…, N-Naomi sudah tidak ada lagi di sini”

Dugg! Seketika detak jatungku meningkat.

“Apa maksudmu??…, jangan bercanda kamu!?” berharap perkiraannku salah.

“Dia telah meninggalkan kita untuk selamanya, dia sudah pergi Van”

“Ah, kamu bercanda kan??” “Sekarang dia pasti sudah bahagia dengan suaminya??” “Kapan dia menikah??”

“Van!..” Putri menggenggam tanganku, matanya meyakinkan bahwa dia berkata sejujurnya. “Ikhlaskan dia…”

Tubuhku gemetar, tidak tahu lagi mau ngomomg apa, air mata sudah tak terbendung lagi. Hatiku sakit sekali mendengar penyaksian ini.

“Maaf selama ini aku menyembunyikannya darimu. Karena Naomi selalu mendesakku untuk tidak mengatakannya”

“Tapi aku kasihan melihat kamu, yang pasti sangat sakit melihat orang yang disayang tiba-tiba hilang tanpa jejak. Namun kamu harus tahu juga, dia sangat mencintaimu sampai kapanpun, dia mencintaimu lebih dari yang kau tahu Van. Selama ini dia berpura-pura telah ditunangkan oleh orangtuanya hanya karena tidak ingin melihamu sedih. Dia sadar kamu pasti sangat terpukul, kalau tahu hidupnya tak kan lama lagi.”

“Dia terkena kanker hati stadium akhir”

“Waktu dulu saat dia tidak bisa datang ke cafe, sebenarnya dia masuk rumah sakit. Naomi minta tolong padaku, untuk menyampaikannya ke kamu dengan alasan ada acara keluarga.” 

“Dan selama ini, kenapa kau tidak pernah menemuinya di kampus, karena dia sedang berjuang di rumah sakit melawan kankernya Van. Tapi lagi-lagi Naomi melarangku ketika hendak ingin menyampaikan kondisinya kepada kamu. Sampai akhirnya….”

“Cukup Putri..” aku tidak mau lagi mendengarkannya.

Kami berdua hanyut dalam kesedihan. Seakan malampun ikut menangis merasakan betapa sakitnya yang kurasakan.

Tidak ada lagi dia yang selalu menemani hari-hariku dengan tawanya, kenapa dia bisa sekuat itu menutupi sakitnya dariku. Bayang-bayangnya masih tergambar jelas di benakku, aku rindu dia Tuhan. Kenapa Engkau tega mengambilnya dariku. 

Ternyata, selama ini, aku telah melewatkan tangisnya.

“Ini…” Putri memberikan secarik kertas. “Kenangan terakhir dari Naomi..”

Aku buru-buru melihat isinya.

Aku… Aku tidak bisa percaya dengan penyampaian ini. 

Heningku mewakilkan semuanya, menyamarkan jeritan keras hati yang tak terima. Kenapa Tuhan… Aku tak tahu lagi, aku harus bagaimana. Aku hanya ingin lihat bulan sekarang. 

Naomi sayangku, kenapa kau tega meninggalkanku sendirian di sini.

….

Untuk kekasihku

Orang yang paling aku sayang

Lelaki biasa namun membuatku istimewa

Aku tak tahu akan datangnya sedih ini

Tapi kamu jangan khawatir

Aku tidak pernah pergi meninggalkanmu

Aku selalu  di hatimu

    Sekarang… aku bahagia bersama rembulan

    Nanti kalau kamu kangen 

    Kamu tinggal lihat bulan 

Sayang…

Tuhan ternyata tidak mau meminjamkan sedikit lagi waktunya

Maafkan aku sayang telah membuatmu sedih

Maafkan aku telah membuatmu merasa kesepian

Sepertinya cintaku terlalu besar ke kamu sayang

Sampai-sampai hatinya sendiri sakit

   Aku kangen kamu sayang

   Terima kasih atas semuanya

   Dan.. 

   Maaf puisiku tidak sebagus puisimu, hehe

   Senyum dong sayang

What's Your Reaction?

marah marah
0
marah
benci benci
0
benci
suka suka
2
suka
sedih sedih
0
sedih
wow wow
0
wow
senang senang
0
senang
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals